BIARKAN YANG MUDA BERKARYA
Anak muda, baik di jaman sebelum kemerdekaan, jaman revolusi, jaman orde lama, orde baru hingga sekarang, tetaplah anak muda dengan cara pandang dan rasio berpikirnya. Cenderung agresif dan tidak sabar dalam bertindak, kurang pengalaman dan cenderung instan. Mungkin beberapa alasan itulah yang membuat banyak “orang tua” beranggapan bahwa anak muda tidak perlu diberi tempat, atau paling tidak selalu didikte dalam melakukan sesuatu.
Mungkin
sebagian dari kita masih ingat tentang iklan salah satu rokok.
Bagaimana seorang bawahan yang masih muda dipanggil menghadap bos yang
bisa dikategorikan “orang tua”. Ia didandani mirip sekali dengan bosnya
itu. Bahkan si bos harus rela memberikan pakaiannya, celananya hanya
supaya si anak mirip dengan si bos. Belum habis di situ, ketika si
bawahan hendak keluar, ia yang berpostur lebih tinggi dari bosnya itu
harus “direndahkan” posturnya hingga ia setinggi bosnya. Duh, ribet…
M
|
emang
sebuah kenyataan bahwa “orang tua” lebih banyak menuntut agar pemuda
sekarang menjadi “sesuatu” yang sesuai dengan kehendak mereka. Mereka
menjadikan pemuda sebagai robot, bukan manusia. Hak-hak dan intelegensi
mereka tidak diakui. Mereka merasa; “Saya sudah banyak makan garam, dan
kamu adalah anak kemarin sore”. Mereka mengatakan hal itu tanpa beban
sama sekali. Menekankan bahwa yang tua-lah yang lebih baik, dan mereka
harus menurut apa kata orang tua.
Ironis
memang. Mereka berkata bahwa mereka sudah banyak makan garam, tanpa
sedikitpun memberikan kesempatan yang muda merasakan bagaimana rasa
garam itu. Mereka hanya bilang: Asin! Titik! Padahal jika mau sedikit
saja mengakui bahwa pemuda itu “ada” dengan segala keberadaannya, pasti
itu akan lebih baik. Mengapa? Dengan segala kepandaian dan inovasi yang
dimiliki pemuda, dan sedikit saja pengakuan orang tua dengan
pengalamannya, maka suatu pekerjaan atau hal akan terselesaikan dengan
baik.
Memang
sulit menyatukan prinsip dari dua generasi yang berbeda. Lihat saja
peristiwa Rengas Dengklok, di saat-saat menjelang peristiwa proklamasi
RI saat itu. Lihat juga keadaan sekitar kita, pasti banyak ditemui
contoh-contoh nyata, dan rasanya kedua generasi itu selalu saling
berbenturan.
Kesepakatan
sulit tercapai dengan orang yang berprinsip. Dari hal itu mungkin
seyogyanya yang muda sedikit “mengerem” laju kecepatannya, yang tua
sedikit “murah” berbagi pengalamannya. Mengurangi ego dan prinsip
masing-masing. Jika telah terbina demikian, pasti segalanya akan lebih
baik. Bagaimana tanggapan Anda, yang muda? Atau Anda yang tua ingin
membantah? Silakan.
sumber ; https://iisk4.wordpress.com/page/3/
0 komentar:
Posting Komentar